Monday, August 22, 2016

AFTER TASTE

AFTER TASTE

Jakarta, Minggu 14 Agustus 2016 Pukul 06.00
“Para penumpang Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA324 tujuan London agar segera memasuki pesawat melalui Gate 32”
Mendengar panggilan ini semakin menggoyahkan hati seorang dokter gigi muda, meski sebelumnya, hati nya sudah begitu bulat untuk pergi ke London, menemui kekasih nya, tapi sungguh........kaki ini dirasa begitu berat melangkah........Disambarnya satu gelas kopi panas yang tadi dibelinya. Dia cicipi sedikit, “pahit” kemudian dia tutup rapat – rapat, dan dibawanya minuman itu ke dalam pesawat. Cita sengaja tidak menambahkan campuran gula ke dalam kopinya, membiarkan lidahnya mencicipi rasa kopi yang sesungguhnya, meskipun pasti akan terasa pahit, tapi ada sungguh itu lebih baik karena ada kesan kejujuran didalamnya, dan Cita sedang membutuhkan itu di dalam hidupnya, sebuah kejujuran. Jujur terhadap perasaannya, jujur terhadap hatinya, jujur terhadap lingkungannya, terutama...........jujur kepada pasangannya. Kemewahan terminal baru hasil karya anak negeri yang menjadi viral di media sosial, seakan tidak mampu mengalihkan rasa dan pikiran Dia saat itu.
Barang bawaan dia untuk bepergian selama 2 minggu, bisa dibilang sangat sedikit. Dia hanya membawa satu koper kecil yang bisa dimasukan kedalam kabin, dan satu tas ransel terbuat dari kulit yang nempel dipunggungnya. Tas ransel itu berwarna coklat kopi, terlihat masih sangat baru. Meski terlihat kecil, tas kulit itu bisa muat banyak, mulai dari kantong kecil kosmetik, charger, dompet, novel dan makanan ringan kesukaannya, sementara Koper kecil itu hanya berisi beberapa potong pakaian saja.
“Beb, aku sudah dipanggil boarding tuh, doain aku ya.......” Cita berkirim pesan via WA ke Billy,  kekasihnya di London......
“Ok.....” “nanti pas transit, kabarin aku ya” Jawab Billy.
Selesai mengirim pesan melalui WhatsApp, Dia ambil gadget satu lagi, kemudian mengirim pesan singkat melalui BBM kepada Ibam, “kamu kenapa tidak membalas bbm aku dari kemarin ?” “aku sudah dipanggil buat boarding……sampai bertemu 2 minggu lagi”
Yang ada hanya tanda ceklist, tanpa berubah warna……..berarti pesan itu sampai, tapi tidak dibaca.
“mmmmhhh” Cita mengambil nafas panjang, dadanya terasa sesak. Lalu teringat pertemuan terakhir saat Dia pamit ke Ibam kalau akan pergi ke London.
Bandung, Jum’at 12 Agustus 2016
Sore itu, langit Kota Bandung, begitu cerahnya. Mentari senja begitu hangat menyapa setiap orang Bandung, tepatnya pukul 17.10, disaat terlihat seorang perempuan muda, cantik, rambut tergerai dengan bola mata hitam, memakai helm dan kacamata hitam, berjaket kulit, sedang duduk dibonceng oleh seorang lelaki diatas sepeda motor hitam keluaran terbaru bergaya klasik. Lelaki itu terlihat sangat dewasa dengan kumis tipisnya, dengan dandanan seorang motoris, berjaket kulit, berkacamata hitam dan bersepatu kulit coklat mengkilap. Jam segitu, menurut Cita adalah kondisi Bandung yang terindah, indah dengan segala permasalahannya. Makanya, melihat udara bandung sore yang begitu indah, Cita tidak mau melewatkannya begitu saja, hingga langsung telepon Ibam, untuk berkeliling kota Bandung, menggunakan motornya. Entah kenapa, berkeliling di kota bandung menggunakan motor di sore hari, menjadi suatu momen yang tidak pernah mau Dia lewatkan, apalagi hari ini, menjadi hari terakhir Dia di Kota Bandung sebelum harus pergi ke London.
Untuk acara sore ini, Cita sebetulnya sudah prepare dengan sangat detail, dimulai dengan meliburkan jadwal praktek dokter giginya, sudah mandi dari jam 15.30, agar bisa dijemput pada pukul 16.00 oleh Ibam, kemudian yang terakhir ini, yang paling penting, dan terus dia latih berulang – ulang, yaitu bagaimana caranya agar dia bisa memancing agar Ibam berani berterus terang untuk mengungkapkan isi hatinya, mengungkapkan perasaannya. Ya betul, ada suatu kegamangan dalam hati Cita, tentang isi hati Ibam. Kedekatannya selama 3 bulan ini, masih menyisakan suatu persoalan mendasar, yaitu tentang status hubungan mereka. Dia sadar betul, penyebab itu semua karena status Cita sendiri yang memang sudah menjadi “calon istri” dari Billy, teman SMA nya, yang sekarang sedang mengambil Master di London. Dia dan Billy sudah menjalin hubungan lebih dari 7 tahun, sejak dari SMA. Selama 7 tahun menjalin hubungan, tidak pernah terjadi cekcok ataupun pertengkaran yang berarti.
Cita seorang perempuan yang cantik, baik, pintar dan berhasil menjadi seorang dokter gigi. Begitu pun Billy, setelah lulus dengan predikat Cumlaude dari sekolah favorit di kota Bandung, kemudian mengambil kuliah master di Inggris. Raut muka wajah mereka yang mirip, menjadikan  mereka pasangan yang serasi. Setiap orang yang melihat mereka jalan berdua, pasti akan memuji keserasian mereka. Hingga kemudian, mereka bertunangan dan berencana untuk menikah setelah Billy selesai kuliah akhir tahun nanti.
Ibam segera menepikan motornya di kawasan perbukitan Bandung Utara, mencari spot yang bagus untuk menyaksikan senja yang meredup di ujung barat Kota Bandung. Cita turun dari motor duluan, kemudian Ibam pun turun, dan mereka berdua duduk di tepian rumput kering menyaksikan keindahan alam Kota Bandung. Tidak ada kata terucap dari mereka berdua untuk beberapa saat sampai kemudian Cici mencoba membuka percakapan “Bam, hari minggu nanti, aku jadi pergi ke London, aku naik Garuda hari minggu nanti, transit di Doha Qatar” ucap Cita namun dengan wajah yang masih menatap mentari senja. Melihat Ibam tidak merespon ucapannya, Cita kemudian berkata lagi, “kamu tidak mencoba melarang aku pergi ke London ?” Mendengar perkataan Cita, Ibam hanya tersenyum kecut. Mencoba untuk berkata-kata, namun lidahnya terasa kelu, tidak ada kata terucap. Hening.

Bandung, Kamis, 12 Mei 2016 Pukul 12.15
“Cici apa kabar ?”
Cita yang saat itu sedang membawa nampan makan siang nya terkejut mendengar nada suara itu, dan langsung menoleh ke samping kanan nya…….nada suara yang sudah lama menghilang dari benak dan hati nya, seakan muncul kembali dengan membawa sejuta bayangan dari masa lalu.
“Ibam ?....”   Ibam dan Cita itu teman yang begitu dekat saat SMA dulu, 7 tahun yang lalu. Namun pertemanan itu berubah saat Cita menerima Billi sebagai kekasihnya. Ibam selalu memanggil Cita dengan sebutan Cici. Dan kemudian, entah kenapa, saat mengetahui Cita menerima Billi sebagai kekasihnya, Ibam langsung menghindar, dan berubah 180 derajat, selalu menghindar. Awal-awalnya Cita ga begitu merasa kehilangan Ibam, toh ada sosok Billi yang selalu hadir di hidupnya, namun ternyata setelah sekian lama sampai kemudian lulus SMA, Cita mulai merasa kehilangan  dan Ibam sudah menghilang entah kemana, hingga saat ini kemudian hadir bertatap muka di sebuah café, di dekat Rumah Sakit tempat Cita praktek sebagai dokter gigi.
“Sini…duduk semeja dengan aku,” ujar Ibam, “Aku sendirian kok, seperti kamu, sendirian juga kan ?” Ibam dengan raut muka yang begitu tenang, meminta nya duduk semeja, menikmati makan siang nya.
Cita mencoba tersenyum, lalu kemudian setelah menyimpan nampannya di meja dan menyimpan dompetnya di kursi, dengan cepat, dia kemudian menjewer telinga Ibam dengan keras, sambil berkata…..”kamuuu, enak aja, setelah hampir 10 taun aku cari kemana mana gak pernah ada, tapi sekarang tiba-tiba muncul di depan wajah aku, tanpa perasaan bersalah sedikit pun……dasarr, ampuuun enggaaa….. ampuuun enggaaa??? ”
Ibam terkejut, tidak menyangka Cita bakalan berbuat seperti itu……………”ampuun Ci, ampun Ci……” ujar Ibam dengan muka cengar cengir dan cengengesan…..”beneran gak akan berbuat kaya gitu lagi ?” tegas Cici. “berbuat apa Ci ?” Ibam bertanya, pura – pura ga ngerti. “Kamu pergi ninggalin aku, seperti tujuh tahun yang lalu, pergi begitu saja, tanpa pamit tanpa permisi”. Ibam tambah cengengesan….”aku janji…janji Ci. Asal lepasin dulu jeweran di telinga nya, sekarang beneran udah mulai kerasa sakit tau” Cita ngelepasin jeweran di telinga Ibam yang sudah merah….”aku pegang janjinya ya” tegas Cici, “sekarang kamu berdiri Ibam…..” pinta Cita. Ibam kemudian berdiri, dan kemudian dengan cepat, Cici memeluk Ibam…sangat erat.  Mungkin sebuah pelukan rindu yang mewakili jutaan kata dan rasa yang tidak tersampaikan selama 7 tahun ini.  Ibam terdiam…
Setelah itu, Cita memberondong Ibam dengan berbagai pertanyaan, mulai dari kuliah dimana, kerja dimana, tinggal dimana dan sejumlah pertanyaan lainnya, Cita seakan mencoba mencari jawaban  selama 7 tahun ini. Ibam menjawab semua pertanyaan Cita sambil cengengesan merasa senang, berarti salama 7 tahun ini, Cita merasa kehilangan atas dirinya, begitu gumam Ibam dalam hati. Selesai dengan semua pertanyaanya, Cita kemudian berkata…..”dari tadi aku saja yang bertanya tentang kamu, kok kamu ga bertanya tentang aku sih ?” Untuk pertanyaan terakhir ini, Ibam agak lama menjawabnya…kemudian Ibam berkata ”Cici, mencari keberadaan seseorang di era media social begitu banyak saat ini, tidak lah susah. Aku selama ini selalu tahu, kamu kuliah dimana, kamu liburan kemana, kapan kamu wisuda, kerja praktek dimana, kapan dan dimana kamu mulai bekerja, dan kapan kamu pindah kerja” terang Ibam. “ seperti halnya sekarang, Kamu baru 2 hari ini kan, pindah ke rumah sakit di seberang Café ini”…
Mendengar penjelasan Ibam, Cita menyadari, jadi selama 7 tahun terakhir ini, (mungkin) Ibam tidak merasa kehilangan dirinya karena selalu stalking dirinya di medsos.
“Terus kenapa baru sekarang, Kamu nunjukin diri kamu ?” Tanya Cici
“Hanya memenuhi janji aku saja, kalau aku ga akan ngobrol dengan kamu lagi sampai 7 tahun lagi. Itu janji aku 7 tahun yang lalu, sehari setelah kamu ulang tahun yang ke 18” terang Ibam dengan muka yang serius, “kamu ulang tahun yang ke 25 kan, hari kemarin ? aku masih ingat kok” ucap Ibam ke Cita.
Memang benar, hari kemarin 12 Mei, Cita berulang tahun yang ke 25. 
Mendengar jawaban Ibam, Cita yang sekarang terdiam, lidahnya tidak bisa berkata kata, padahal semakin banyak saja pertanyaan yang ingin dia utarakan ke Ibam.
Tak lama kemudian, datang pelayan Café membawa pesanan Ibam. “Mas pesan affogato” Tanya pelayannya. “Betul” jawab Ibam. Pelayan itu kemudian menyimpan satu gelas kecil kopi espresso dan satu gelas es krim vanilla di depan Ibam. “selamat menikmati” ucap pelayan itu, “terima kasih” jawab Ibam. Setelah pelayan itu pergi, kemudian Ibam bertanya ke Cici…..
“Bagaimana kabar hubungan kamu dengan Billy ?”
“Baik-baik saja” jawab Cita
“pastinya, kalian akan selalu baik-baik saja…”jawab Ibam.
“emang kenapa ? kamu kok menyimpulkan seperti itu ?”
“Ci, kamu dan Billy itu sebuah pasangan yang sempurna, terlalu sempurna bahkan..””kamu cantik, pintar, pintar bergaul dan berasal dari orang berada. Begitu pun Billy”. Ucap Ibam dengan mata penuh keyakinan.
“pernah denger istilah -4 Sehat 5 Sempurna- kan ?” Tanya Ibam..”iya lah” jawab Cici. “ungkapan itu berlaku buat anak kecil saja Ci, atau maksimum buat anak-anak SMA lah. Istilah itu sepertnya tidak berlaku lagi buat orang – orang dengan seumuran kita ini”jelas Ibam. “Maksudnya gimana Bam ?”
“Kamu tahu, minuman apa yang menyempurnakan kata -4 sehat- tadi ?”
“susu” Jawab Cici
“Nah, pertanyaan nya sekarang, kenapa harus susu, bukan Kopi? ” Tanya Ibam. Cita tersenyum mendapatkan pertanyaan sederhana dari Ibam tersebut.  Ingin menjawab, tapi terus membiarkan Ibam bicara........”Dulu aku melihatmu sebagai sosok yang sudah sempurna sebagai perempuan, kehadiran Billy semakin menyempurnakannya, seperti ungkapan tadi, 4 sehat 5 sempurna”.
“Kamu sudah memiliki 4 sehatnya, dan Billy itu bagaikan minuman susu yang menyempurnakan hidupmu. Sedangkan aku, dengan segala kekuranganku, aku mengibaratkan diriku saat itu, bagaikan kopi, yang mungkin tidak akan menyempurnakan dirimu. Kalaupun saat itu aku paksa untuk memasuki hidupmu, sudah pasti kamu tidak akan memilih diriku”. Cita terhenyak mendengar ucapan dari Ibam tersebut.  “Seperti affogato yang aku pesan sekarang ini Ci...., kamu pernah mencoba nya ?” Cita menggeleng. Kemudian Ibam mengambil satu gelas yang berisi espresso hangat, dengan pelan espresso tersebut dituangkan ke dalam gelas lain yang berisi es krim vanilla. Espresso itu merembes ke dalam es krim, meski perlahan, es krim itu lama – lama bercampur dengan rasa kopi espresso yang khas. Hangatnya espresso sukses bercampur dengan dinginnya es krim, menjadi sebuah padanan rasa yang luar biasa. “Coba deh Ci.....minumnya pake sendok kecil, nikmati sensasi after taste di lidahmu, jangan langsung ditelan...” pint Ibam. Tanpa menunggu waktu, Cita langsung menyambar sendok kecil....dan setelah mengambil affogato dengan seukuran setengah sendok kecil, Cita mencoba mempraktekan apa yang Ibam jelaskan barusan.....”gilaaa, aku baru merasakan sensasi seperti ini Ibam...” teriak Cita. Tanpa diminta lagi, Cita kemudian menyuap lagi affogato nya, tapi kali ini penuh ukuran satu sendok kecil “luar biasa..enak banget ini” ucap Cita. Ibam tersenyum melihat reaksi Cita
Setelah itu, obrolan kembali berlanjut hingga hampir pukul 14.00, sampai akhirnya Cita pamit karena harus kembali ke Rumah Sakit tempatnya bekerja, tapi sebelum pamit, Ibam kemudian memberikan kartu nama sembari bilang, “Cici, ini kartu nama aku, disitu ada no hp dan email, kapanpun kamu  mau, jam berapa pun kamu butuh aku, tinggal cari aku...aku pasti ada buat kamu. Kamu ga perlu ngasih tau no hp kamu, toh aku sudah tau dari dulu no hp kamu” Ibam mengucapkan nya dengan tatapan mata yang tajam dan suara nya yang berat. Cita tidak menjawab, hanya mengangguk kecil, kemudian berjalan terburu – buru menuju kantornya.
Doha, Qatar, 14 Agustus 2016 Pukul 16.00
Cita keluar dari pesawat, dengan hati yang masih gundah. Perjalanan yang biasanya menyenangkan, terasa berbeda kali ini. Perjalanan terasa sangat lama, film-film yang tersaji di kursi pesawat, tidak mampu mengubah mood Cita. Penyebab nya hanya satu. Ya, karena dia kehilangan kontak lagi dengan Ibam dari hari kemarin. Dia sudah coba telefon, tapi tidak aktif. Dia coba WhatsApp, juga tidak dibacanya. Upaya dia pada hari jum’at lalu, untuk mengetahui perasaan Ibam, tidak membuahkan hasil. Selama perjalanannya itu, Cita sudah mencoba jujur kepada dirinya sendiri, sudah mencoba jujur kepada hatinya sendiri. Ya, ternyata masih ada ruang di hatinya  untuk menerima seorang Ibam dalam hidupnya.
Setibanya di salah satu Cafe Bandara Doha, Cita menyalakan HP nya, dan langsung terdengar suara bersautan notifikasi medsos yang masuk ke gadget nya. Cita mencoba membuka satu persatu, medsos nya, tidak ada yang satupun ingin dia balas. Setengah malas, dia membuka-buka buku menu makanan dan minuman di cafe itu.  Kemudian seorang pelayan berwajah timur tengah mendekat, dan Cita berkata dalam bahasa inggris “give me affogato please”...”ok Miss” jawab pelayan itu dengan ramah.
Ah, affogato itu menjadi penyebabnya. Menu pertemuan pertama Cita dengan Ibam setelah 7 tahun tidak pernah bertemu seakan selalu lekat di lidahnya. Kenapa tidak, setelah pertemuan pertama itu, setibanya di kantor, ada  pesan masuk ke hp nya, “terima kasih Cita, sudah meluangkan waktunya. Jangan lupakan sensasi dari affogato ya.....rasakan after taste di lidah yang luar biasa”.  Itu pesan melalui WhatsApp pertama kali nya yang masuk dari Ibam setelah menghilang selama 7 tahun. Setelah pesan pertama itu, selanjutnya mereka tidak pernah berhenti untuk berbagi kabar dan cerita satu sama lain, hampir tiap hari salama 3 (tiga) bulan terakhir ini.
Kembali Cita melihat HP nya, kemudian mengirimkan pesan terakhir ke Ibam...”seandainya pada hari Jum’at lalu kamu melarang aku pergi ke London, aku ga akan pergi ke London, Ibam. Selama 3 (tiga bulan kita bersama – sama, akhirnya aku bisa tahu jawaban dari 2 hal yang sempat kamu tanyakan dulu, pertama, kenapa ungkapan “4 sehat 5 sempurna” tidak cocok untuk orang dengan se usia kita, kedua, kenapa harus minuman susu yang menyempurnakannya. Secara tidak langsung, kamu mencoba memberi jawaban dari pertanyaan mu dulu dengan rasa affogato yang kamu tawarkan padaku dulu. Tidak selamanya, rasa dari kopi itu pahit, karena setelah bercampur dengan es krim, rasa pahit itu bisa berubah dengan seketika, menjadi rasa baru yang membuat kesan tak terkira di lidah. Begitu pun, interaksi dari kita selama 3 bulan terakhir ini. Jujur, buatku bagaikan menikmati affogato, dan after taste nya baru aku rasakan saat ini, baru aku rasakan saat ini, tapi di hatiku, bukan di lidah seperti biasanya. Hatiku sudah terlalu lama tidak merasakan sensasi ini. Hatika sudah terlalu lama tidak merasakan gelora dari rasa ini. Seandainya kamu tahu, aku ingin kita menjadi affogato, dimana kamu boleh memilih menjadi kopi atau es krim vanilla nya. Ah, maaf ibam, aku terlalu larut akan perasaan ku. Tapi setidaknya, aku lega sekarang karena aku telah jujur dengan hatiku, telah jujur dengan perasaanku. Aku pamit Ibam.....” setelah itu, tanpa pikir panjang, Cita mengirimkan pesannya ke Ibam, tanpa terasa, ada setitik airmata jatuh di pipi Cita.
Tak lama kemudian, terdengar suara dari HP, notifikasi dari WA nya. Jantung Cita berdegap, karena itu pesan balasan dari Ibam. “Maaf Cici, aku baru bisa balas sekarang. Kemarin seharian aku berada di pesawat. Aku saat ini sudah sampai duluan di London. Terima kasih atas kejujuran mu. Sebenarnya, Aku sudah mencoba untuk bisa berkomunikasi dengan mu sejak 7 tahun yang lalu, setelah sekian lama mencoba, akhirnya Billy baru mengizinkan nya tepat 3 bulan yang lalu. Aku menghormati Dia, karena walau bagaimana pun, Billy juga adalah sahabat ku dari kecil. Aku sudah bicara baik-baik dengan Billy, Aku menginginkan mu menjadi pendampingku. Sekarang tinggal menunggu keputusan mu, apakah mau menyempurnakannya dengan segelas susu atau dengan segelas affogato, mau terus bersama Billy atau mau memilihku. Sampai bertemu di London, Cici”
Cita terdiam.
==== II =====

Abatabee, 22 Agustus 2016

Monday, June 9, 2014

Ikhlas......

Anda tahu apa artinya ikhlas ?
Anda pernah mencoba untuk ikhlas dalam melakukan sesuatu ?
Apa anda yakin pernah benar-benar ikhlas dalam melakukan sesuatu ?

Anda tahu apa artinya keluhan ?
Apa anda pernah mengeluh ?
Apa yang anda keluhkan ?
Apa kita boleh mengeluh ?

dan yang paling penting.........
Kepada siapa anda mengeluh ?

Seseorang yang ilmu agama nya tinggi menyatakan :

Ikhlas itu berarti melakukan sesuatu karena - Nya, bukan karena mahluk-Nya

dan tentang keluhan, kembali orang berilmu berkata :

'Jangan pernah mengeluh kepada sesama mahluk-Nya, karena hal itu seakan - akan tidak mensyukuri ketentuan dari - Nya"


Jadikan hamba ini mahluk yang selalu bersyukur........amiinn



Sunday, February 3, 2013

Negeri Orang - Orang Pintar !

Negeri Orang - Orang Pintar !

Negeri ini sudah merdeka
tapi penuh sesak oleh rakyatnya
rakyat di negeri ini banyak orang kaya
tapi sesak oleh rakyat miskin

lalu salah kah itu ?
Jawabannya TIDAK !

Karena kemiskinan sudah ada sejak dulu

adanya orang miskin,  bisa menjadi ladang amal buat sesama
adanya orang miskin, membuat semangat untuk membangun terasa menggebu
adanya orang miskin, biaya kesehatan dan pendidikan bisa sangat murah

Lalu, apa yang salah ?
Yang salah adalah ketika begitu banyak orang miskin di satu kelurahan
padahal begitu banyak orang kaya disana........
setuju ?

Tidak Setuju ??!!

Karena menurut kami,
tidak semua orang kaya itu pintar

tidak semua orang kaya itu berilmu
tidak semua orang kaya itu berakhlak mulia
tidak semua orang kaya itu peduli.

Lalu siapa yang benar-benar salah ?

Yang salah adalah
orang - orang pintar yang tidak pernah memikirkan
bagaimana membuat orang kaya menjadi pandai
bagaimana membuat orang kaya menjadi berilmu
bagaimana membuat orang kaya menjadi berakhlak mulia
bagaimana membuat orang kaya menjadi peduli sesama.


@Bappenas, 30 Januari 2013


Friday, February 1, 2013

Aromanya Khas !

Aromanya khas...

Paduan wangi obat
wangi pasrah dan wangi air mata
menusuk hidung menggoncang hati
menumbuhkan rasa iba
semilir kesedihan terhembus
di seluruh ruangan

Orang berbaju putih hilir mudik
menawarkan bantuan
Sungguh butuh kesabaran dan ketelatenan
karena ikhlas itu harus pake hati
dimana ikhlas menjadi pondasi itu semua

Lalu siapa yang betah di tempat ini ?
mungkin hanya kucing yang entah kenapa
selalu banyak di tempat tempat seperti ini

sejatinya, ga akan ada yang betah tinggal di sini
dari dulu, saat ini dan waktu nanti

Terus bersyukur untuk yang sehat........

@rsud Tasikmalaya (27/1/2013)*

*saat menengok Bi Yeti, yang kemudian pada tanggal 28/1/2013, beliau dipanggil-Nya....
innalillahi wainnailahi rojiun
Allahumafirlaha warhamha waafiha wafuanha..........

Monday, January 21, 2013

Pengabdian.............

Pengabdian.............

Waktu ter abaikan
Keluarga ter tinggalkan
Sahabat me ninggalkan
Harta ter gadaikan

jangan tanyakan arti kesehatan
jangan tanyakan arti kemewahan
jangan tanyakan arti kesenangan
jangan tanyakan arti kesabaran

karena pengabdian..............

butuh pembuktian
butuh keberanian
butuh ketelatenan
butuh kesabaran
butuh  PENGORBANAN.........
butuh ke IKHLASAN

menanti akan kejutan
menanti akan harapan

entah sampai kapan !!!



Saturday, January 12, 2013

Catatan Pagi Sisa Semalam

Pagi ini kembali menjadi pagi sisa semalam dimana begitu banyak mandatory duty yang harus dituntaskan. Tapi jujur, untuk tugas yang satu ini, entah kenapa, sepertinya begitu banyak energi yang muncul untuk menuntaskannya. Entah karena suka, entah karena merasa tertantang, entah karena terpaksa. Tapi sepertinya perasaan merasa tertantang lah yang lebih mengusai diri sehingga muncul energi energi tambahan yang (kembali) entah berasal dari mana itu bisa muncul tiba tiba. 

Satu poin penting dalam penyusunan usulan kegiatan berbasis online ini, mutlak, hanyalah satu saja, yaitu adanya recording data usulan sehingga tidak ada jamannya dimana di ruangan bertumpuk usulan program dan kegiatan dari kabupaten dan OPD dengan jumlah yang bergaban-gaban banyaknya, dengan format tabel usulan yang juga berbeda, serta ada yang dengan soft copy nya, tapi ada juga yang "deleka" memberi hanya hard copy nya saja, tapi itu dulu, catet !! Itu Jaman Dulu !! *ga dulu-dulu amat siy, yaa 3 tahun kebelakanglah. 

Lain dulu, lain sekarang. Saat ini, seiring semakin bertambah canggihnya teknologi dan tingkat penyebaran IT yang hampir merata di Jawa Barat, maka poin penting disini adalah semakin mudahnya untuk menerapkan e-government di kabupaten/kota. Jadi ketika nge push orang-orang buat masukin data via online, maka hampir semua orang menyambut dengan gembira (*padahal ngedumel-red). wkwkwkwk

Semalam itu menjadi sebuah deadline kerjaan pertama buat input data, karena diberitahukan sebelumnya kalo tanggal 11 itu hari terakhir input data, jadi sepertinya orang-orang berbarengan input data dan banyak yang tidak menyangka kalau isi surat itu tidak main main karena pas pada pukul 24.00 kemarin, fitur "insert data" buat pengusul sudah di deaktivasi, sehingga hanya bisa melihat-lihat tanpa bisa insert data lagi..maaf maaf yang sudah komplen tadi malam. 

Semangat terbarukan lah yang harus diusung setiap kita bekerja, semangat terbarukan untuk merubah yang lambat menjadi cepat, semangat terbarukan untuk merubah yang kotor menjadi bersih, semangat terbarukan untuk merubah yang panjang menjadi pendek, semangat terbarukan untuk merubah yang malas menjadi rajin, semangat terbarukan merubah yang "merekedeweng" menjadi penurut, semangat terbarukan merubah yang kikir menjadi dermawan, semangat terbarukan merubah yang sakit menjadi sembuh, semangat terbarukan merubah yang boros menjadi hemat dan semangat terbarukan merubah yang idealis menjadi lebih realistis dan semangat terbarukan merubah yang sok pintar menjadi lebih bijak, bukan menjadi lebih bodoh........

sekian !!

*pulang ah...........lelah !!

Thursday, January 3, 2013

Pemimpin Kumaha Saena

Metode Kepemimpinan Pertempuran menjadi salah satu buku yang sedang saya baca akhir - akhir ini. salah satu poin penting dari buku itu diungkapkan bahwa seorang pemimpin itu dibentuk bukan dilahirkan, dibentuk oleh lingkungan dan budaya dimana individu itu berada. Diungkap dalam bacaan saya itu kalau seseorang yang pernah menjadi pemimpin medan pertempuran maka dia akan berhasil dalam mengatasi berbagai permasalahan kepimimpinan di bidang-bidang lain, karena saat bertempur, hingga saat ini masih diyakini oleh banyak orang, dimana saat itu merupakan tahap ujian terbesar bagi seorang pemimpin, ada benarnya juga, meski saya tidak percaya mutlak terhadap pemikiran tersebut. 

Adalagi salah satu metode kepemimpinan yang selalu di koar-koar pada saat apel pagi oleh Bapak Profesor yaitu metode kepemimpinan permusuhan. Menurutnya metode ini pada intinya adalah Beliau sebagai atasan akan memusuhi orang-orang yang tidak bekerja dengan baik, yang tidak well performed, dan sepertinya arti dari kata memusuhinya pa profesor adalah dengan mengacuhkannya, menganggap orang tersebut tidak ada dalam kehidupan kerja nya yang memang 24 jam itu (kaya circle q aja nya). cara itu menurut saya terasa akan lebih kejam buat orang - orang timur, sunda khususnya, yang begitu banyak mengedepankan tata titi dalam ber tatakrama dan berbahasa. 


Namun kembali kalau saya boleh berpendapat, saya tidak sepemikiran dengan 2 model kepemimpinan diatas. Yang pertama, saya (entah kenapa) masih percaya bahwa pemimpim itu dilahirkan bukan dibentuk. Kemudian, tidak ada jaminan bahwa seseorang yang telah berhasil memimpin perang di medan pertempuran dapat begitu saja menjadi pemimpin di sektor lain dengan mudah. Karena ada perbedaan mendasar yang harus digarisbawahi yaitu tentang spirit pegawai dan adanya garis komando antara Pemimpin (Komandan) dengan anak buah (Prajurit). Hal tersebut menjadi penting karena nilai semangat anak buah dan pimpinan menjadi titik penggerak suatu organisasi/perusahaan/instansi. 

Terlebih lagi jika menukik ke dalam konteks kepemimpinan di pemerintah (daerah). Seni memimpin akan menjadi lebih kompleks lagi karena harus dapat menembus sekat-sekat budaya yang menempel di setiap individu di instansi pemerintah tersebut, seperti sekat senioritas, sekat mayoritas, minoritas, dan sekat kekerabatan yang begitu kental. 

Yang kedua, sangat menentang metode kepemimpinan permusuhan, karena dengan merasakan implementasi yang terjadi saat ini, batasan antara pekerjaan dengan sosialitas terlalu bias untuk dapat dipisahkan, sehingga konflik yang terjadi di dalam pekerjaan (biasanya) akan terbawa kedalam lingkungan kita bermasyarakat, atau gampangnya, jika kita ber sitegang, beradu pendapat atau terdapat ketidaksepahaman dalam suatu hal di pekerjaan, idealnya tidak berpengaruh ke dalam standar hubungan sosial yang lakukan di luar kantor, tapi pada kenyataannya hal itu pasti akan terbawa ke dalam lingkungan sosial di masyarakat dimana kita berinteraksi.

Lalu kalau ditanyakan, apa metode kepemimpinan yang saya sukai ? saya tahu jawabannya, tapi jujur sampai saat ini saya belum tahu, termasuk ke dalam metode apa tipe kepemimpinan yang saya sukai itu, atau sebut saja dulu, metode kepemimpinan "Kumaha Saena" saja dulu ya.  Mungkin kalau suatu hari saya tahu namanya, akan saya sharing lagi di lain waktu. 

udah ah, apel pagi heula !!


Wednesday, January 2, 2013

ROBOT mode ON

Sudah hampir 2 bulan terakhir..........waktu begitu tersita oleh aktivitas super padat......jadi tanpa disadari, sejak bulan oktober kemaren, tubuh sudah diseting menjadi Mode Robot, dimana tubuh hanya dianggap sebuah benda mekanis, tanpa hati, tanpa rasa, tanpa "kacape.....".

Betul, kalau ditanya dengan pendapatan yang diperoleh, sepertinya memang sebanding dengan penghasilan tambahan yang diperoleh, hanya saja, yaitu, sepertinya tidak gampang untuk bergerak melaksanakan aktivitas dengan mode "robot" seperti itu. Hanya menjalankan apa yang diperintahkan dan melaksanakan apa-apa yang dirasakan perlu, tidak ada penolakan, tanpa ada emosi didalamnya, hanya satu tujuan, bekerja dengan baik dan agar badan tidak terasa sakit.

Entah apa yang kukejar dengan bekerja seperti itu........hati ini masih terdapat pertentangan, karena mau tidak mau, suka tidak suka, rupanya hati kecil ini tetap bekerja dan seringkali menentang apa yang otak pikirkan.

dan kemudian, pada saat hari terakhir masuk kantor di tahun 2012....diumumkan lah suatu mutasi pegawai dan penambahan fungsi baru bagi subbagian dimana saya bekerja.........Gila !
Subbag kami seakan-akan dibebani suatu pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh ROBOT sepanjang tahun, 12 bulan, 54 minggu. Entah saya sanggup untuk bekerja seperti itu atau tidak.........

Sudah sangat wajar apabila, di tahun baru ini, orang-orang mengungkapkan segala keinginannya, namun hal itu tidak berlaku buat seorang bela. Buat Bela, hanya ada doa dan harapan, tidak ada itu yang namanya keinginan, Meski terasa tipis bedanya, tapi antara harapan dan keinginan tetap saja berbeda. jadi, hanya dengan bersenjatakan doa dan harapan lah, saya dapat bertahan selama 3 tahun bekerja ini, ya, hanya dengan doa dan harapan, tidak ada keinginan. Karena ternyata, seringkali keinginan itu hanya berakibat rasa sakit hati dan penyesalan.

Satu harapan saya, semoga Allah memberikan hadiah-hadiah kejutan yang indah di dalam hidup saya di tahun 2013, karena hanya harapan dan doa lah yang menjadi darah di tubuh ini saat ini.......


*belum terlelap......*ngerjakeun PR keneh


Saturday, December 1, 2012

Semangat Terbarukan

Asupan energi hari ini berawal dari satu buah alpukat (bukan jenis mentega) ditambah irisan gula merah, sebagai pengganti rasa tawar dengan rasa manis yang secukupnya. Entah kenapa, semalem waktu mencari oleh - oleh buat Tabee disalah satu swalayan depan kantor, hati tergerak membeli alpukat dan ternyata memang bener, alpukatnya bagus, harganya kalo tidak salah 19.800 per kg. Saya ambil 5 buah, dan ditimbang dengan berat 1,6 kg, jadilah harganya 28 ribuan. 
Mungkin, alpukat ini adalah alpukat pertama yang saya makan dalam 2 bulan terakhir ini, kenapa ? ya karena takut gendut heuheu. Alhamdulillah, berat badan ini sudah turun hampir 8 kg dalam 2 bulan terakhir. Berat badan saat ini sudah 71 kg. Dengan tinggi yang umumnya orangnya Indonesia tinggi 165 cm, dengan berat seperti itu, kayanya masih tetep dibilang gendut atau over weight :). Semangatnya satu, hanya ingin badan terasa lebih sehat. Bukan kenapa-kenapa, banyak orang bilang, kalau makanan itu adalah sumber penyakit. Semakin beragam makanan yang kita makan, maka semakin rentanlah badan kita terhadap penyakit. Jadi dengan mengatur asupan makanan, maka badan kita diyakini akan lebih sehat (mungkin gitu kayanya). Setelah berat badan nyampe 70 kg, target saya hanya akan mencoba menjaga stabilitas badan aja. Tidak berniat untuk lebih turun dari itu, bukan kenapa kenapa, celana dan baju sudah terasa longgar, kalau berat badan tambah turun, dipastikan pengeluaran akan lebih bertambah karena harus beli baju dan celana baru, serta menjahit baju seragam kantor yang baru juga. SEMANGAT SEHAT !

Berinteraksi dengan para pelaksana pembangunan di republik ini ternyata merupakan suatu anugerah tersendiri. Mereka itu adalah para Kepala Desa atau juga sering disebut Pa Lurah atau juga Pa Kuwu. Cara berpikir yang sangat membumi tampak dominan dalam pola pikir dan tindak mereka. Kalau dalam salah tweet nya @pidibaiq  yang tiap pagi Beliau share itu, adalah rasa syukur terhadap-Nya yang telah membuat kita dapat selalu "Tetapkan pikiran kami selalu melangit dan dengan hati yang terus membumi", suatu pernyataan yang belum dapat saya pahami dengan baik. Namun secara sekilas, sepertinya, kata-kata "pikiran kami selalu melangit" nya itu tidak tampak dalam pola pikir para Kepala Desa ini. Manakala saya sempatkan untuk berdiskusi tentang suatu kasus, pikiran mereka tidak melangit, sangat membumi. Berdiskusi dengan banyak kepala desa, adalah suatu kesempatan langka yang dapat saya lakukan. Berdiskusi dengan orang-orang yang berpikir sangat realistis itulah yang (sepertinya) harus lebih sering dilakukan oleh para perencana pembangunan dimanapun berada, sehingga para perencana (seharusnya) tidak terjebak dalam suatu lingkaran pemikiran yang sempit, terdesak oleh kerangka teori dan regulasi yang terlalu mengikat. Karena jika sudah terjebak, maka buah pikir yang dihasilkan hanyalah suatu perencanaan yang "ngawang-ngawang", melangit tidak, membumi pun tidak. SEMANGAT MEMBUMI !

Selalu terngiang - ngiang apa yang pernah dikatakan oleh seorang Negarawan, Gus Dur, "Gitu aja kok repot" atau kalau saya "translate" dalam bahasa ibu, kurang lebih seperti ini "asa teu kudu riweuh". Buat beliau yang pernah menjabat sebagai orang No 1 di negara kita ini, pernyataan seperti itu sepertinya harus bisa diterapkan, dipahami oleh semua orang abdi negara yang ada di republik ini. Kenapa ? karena dengan berprinsip seperti itu, saya yakin, permasalahan yang sesulit apapun, akan terasa lebih mudah dalam memecahkannya. Bukan tanpa sebab, saya melihat ada suatu "keyakinan" diri, ada suatu "kepercayaan diri" dari orang-orang yang bisa berkata seperti itu, bahwa sesulit dan serumit apapun suatu masalah, pasti akan ada solusi atau jalan keluarnya. Jujur, sampai saat ini, saya masih harus belajar untuk bisa berpikir seperti itu. Ketika ada suatu masalah, yang masih sering muncul adalah rasa panik yang justru tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah baru. Seperti saat sekarang ini, yang ada hanyalah rasa takut manakala di hari libur terdengar nada dering telp dari 2 orang atasan yang pastinya akan ada suatu tugas lain yang harus dijalankan. Kemudian datanglah sebuah sms, yang meminta untuk turut serta melaksakan tugas mulia. Subhanallah.....saya sangat perlu SEMANGAT TERBARUKAN !!

Friday, November 16, 2012

Resi Bisma

Disaat merasa ajalnya sudah dekat, Resi Bisma meminta salah seorang pengawalnya untuk menyampaikan pesan kepada para Pandawa agar datang ke Kurusetra. Saat itu, kondisi Resi Bisma sudah sangat melemah, setelah puluhan anak panah Srikandi menancap di tubuhnya. Perang Bratayudha baru saja usai. Resi Bisma merupakan leluhur Pandawa dan Kurawa yang menjadi salah satu korban dari perang hebat yang berlangsung selama 20 hari itu. Resi Bisma sangat dihormati oleh Pandawa dan Kurawa, karena sejatinya Resi Bisma adalah Raja Hastinapura yang sesungguhnya. Seorang pemimpin yang sakti, namun bijaksana. Dia sangat tahu bagaimana Kurawa mendazalimi Pandawa, sangat tahu siapa yang paling benar antara Pandawa ataupun Kurawa, namun ketika Bratayudha terjadi, Resi Bisma bisa memisahkan antara logika berpikir dan rasa tunduk kepada takdir yang telah ditetapkan. Resi Bisma tetap berperang melawan Indrapasta, tapi berperang untuk Hastinapura tapi bukan untuk Kurawa, dan para Pandawa sangat tahu akan hal itu, sehingga Pandawa masih sangat menghormati Resi Bisma. 
Bratayudha bagaikan kumpulan jutaan takdir para pengikut Pandawa dan Kurawa. Takdir bagi seorang Gatotkaca yang sangat tahu bahwa dia akan mati dalam peperangan ini karena harus menjadi perisai bagi pamannya Arjuna dalam menghadapi kesaktian Adipati Karna yang juga gugur, takdir buat seorang Arjuna yang harus kehilangan anaknya, Abimanyu, takdir buat seorang Resi Dorna  yang harus menjalani hukuman setimpal karena kelicikan akal bulusnya, takdir kematian buat Duryudana dan Dursasana serta seluruh kurawa lainnya yang telah berbuat licik kepada Pandawa selama hidupnya, serta juga merupakan takdir buat seorang Resi Bisma, sebagai seorang satria yang harus mati dalam peperangan. 
Tapi di balik perang Bratayudha tersebut, sesungguhnya yang paling diuji dalam kesabaran, adalah Ibunda dari Pandawa, Dewi Kunti, dan Ibunda dari Kurawa, Dewi Ghandara. Bagaimana tidak, seorang Dewi Kunti dan Dewi Ghandari, melihat seluruh anaknya, cucunya dan seluruh keturunannya saling berperang, sedangkan Dewi Kunti dan Dewi Ghandari berada dalam satu Istana yang sama, duduk berdampingan, bersikap saling menghormati, saling menghargai. Ketika Bratayudha selesai, Dewi Kunti kemudian meminta maaf kepada Dewi Ghandari karena Kurawa, anak Dewi Ghandari, yang berjumlah 99 orang, semuanya tewas terbunuh dalam peperangan. "Itu mungkin sudah takdir dari dewata" ujar Dewi Kunti kepada Dewi Ghandari. Tak lama setelah Bratayudha, Dewi Kunti dan Dewi Ghandari beserta Prabu Destarata kemudian mengasingkan diri bersama, bersemedi, hingga mereka kemudian meninggal bersama.
Setengah berlari, pengawal Resi Bisma menuju ke Indrapasta, kemudian menyampaikan amanat Resi Bisma kepada Yudistira. Tanpa berpikir panjang, seluruh Pandawa ditemani oleh Sri Kresna, menuju ke Kurusetra. 
Sesampainya disana, mereka melihat Resi Bisma masih dalam kondisi tergeletak di tanah, dengan tubuh dipenuhi anak panah Srikandi, Kemudian mereka memberi hormat dan duduk disebelah Resi Bisma. Setelah itu, Resi Bisma menyampaikan kepada Pandawa bahwa ajalnya akan segera tiba, dan ingin memberikan 2 buah nasihat, khususnya kepada Yudistira, yang akan menjadi Raja, pemimpin Hastinapura. Nasihat Resi Bisma itu dikiaskan dalam 2 buah cerita yang intinya agar Yudistira dapat menyayangi rakyat kecil dan harus bijaksana sebagai pemimpin dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan seluruh kebutuhan rakyatnya. 

Melihat semuanya sudah tertidur lelap, Udin kemudian menutup pintu kamar anak-anaknya itu. Udin selalu bersemangat bercerita tentang dunia perwayangan kepada anak-anaknya, hal ini bukan tanpa sebab, Udin pada saat masih kecil, begitu terpukau dengan cerita dunia pewayangan, sebuah dunia yang begitu tampak nyata karena dapat melukiskan tata nilai perilaku manusia dalam bernegara, dalam bermasyarakat, dan dalam menyikapi berbagai persoalan hidup di dunia, sehingga nilai-nilai kebaikan dalam dunia pewayangan itu yang Udin coba ceritakan kepada anak-anaknya sebagai dongeng sebelum tidur.

Malam itu, Udin sangat lelah, pekerjaan yang begitu banyak, seakan menguras tenaga dan pikirannya. Namun, hari itu, tidak mungkin dapat Udin dapat lupakan, karena Udin sudah mendapatkan porsi keberangkatan haji ke tanah suci, Alhamdulillaah. Walau harus menunggu selama 7 tahun, mungkin itu adalah waktu yang telah Allah berikan agar Udin dapat lebih meningkatkan ketakwaannya, sehingga dapat "lulus" menghadapi segala cobaan dan menjadi haji yang mabrur. 
Jam di kamarnya sudah menunjukan pukul 22.30, Udin segera memasang alarm pada pukul 03.15 dan Udin pun tertidur.

16 November 2012

Wednesday, November 7, 2012

Undangan

Udin sedang menunggu nomor antriannya dipanggil. Siang ini, Udin akan ngebuka rekening di salah satu bank syariah yang membuka cabang di kota tercintanya. Wajah Udin nampak berseri-seri, gurat kebahagiaan tidakdapat disembunyikan dari wajahnya. Ya, hari ini, Udin akan membuka rekening di Bank, tapi bukan rekening biasa, tapi rekening tabungan buat Udin naik haji, menjalankan rukun Islam ke lima ke Baitullah, Mekkah al mukarommah, memenuhi undangan dari-Nya. Buat Udin, bisa pergi ke tanah suci itu merupakan salah satu cita-cita hidup yang sudah dinanti-nanti dari sejak dahulu.
Jadi, saat semalam istrinya berkata, "Abi, sepertinya tabungan kita sudah mencukupi buat menjadi dana awal membuka rekening haji, jadi kapan Abi mau daftar hajinya ?" mendengar pertanyaan istrinya itu, Udin terdiam sesaat, berusaha untuk mengatur kesadaran diri, menahan luapan rasa di dada yang justru membuat dada terasa sesak. "Alhamdulillaah, saat - saat seperti ini datang juga" gumam Udin dalam hati. Lalu setelah Udin merasa tenang, lalu dia menjawab pertanyaan istrinya tadi, " Insya Allah secepatnya Nda, mudah-mudahan minggu ini bisa langsung daftar ke kantor Departemen Agama". 
Selesai menjawab pertanyaan istrinya itu, tidak lantas Udin menjadi tenang, tapi justru Udin masih merasa tidak percaya, kalau kesempatan buat naik haji itu akhirnya datang juga. Meski untuk di kota tempat tinggal Udin, antrian kuota naik haji saat sudah menginjak tahun ke 7, maksudnya jika Udin daftar haji tahun ini, mungkin baru bisa berangkat pada tahun 2019 nanti. 
Menurut salah satu referensi, meningkatnya antrian kuota haji ini, dimulai saat adanya skema kredit dari     bank - bank syariah dengan sebutan "dana talangan haji", sehingga seseorang yang sudah mempunyai dana awal yang cukup (biasanya 20% dari ongkos naik haji), sudah dapat membuka rekening haji. Kemudian, Bank akan menutupi terlebih dahulu sisa ONH nya, agar nasabahnya sudah bisa mendapatkan jatah kuota naik hajinya. Kalau sebelumnya, biasanya tidak terjadi antrian kuota haji ini, jadi saat kita daftar ke DEPAG, biasanya pada tahun yang bersangkutan juga sudah bisa naik haji. Pengajuan persyaratan dana talangan haji ke bank itu sangat mudah, hanya tinggal membawa fotocopy KTP, kartu keluarga dan kartu menikah (buat yang sudah menikah). Udin pun memanfaatkan fasilitas dana talangan haji tersebut. Untuk bank yang Udin pilih, Bank Syariah Mandiri, minimal setor uang pertama ke bank tersebut adalah Rp.5.850.000,- selanjutnya, BSM akan menutupi sisa ONH nya, dan dapat dicicil sampai dengan 3 tahun.  
Uang 6 juta sudah ada di tangan Udin. Buatnya, uang sebesar itu adalah uang yang sangat besar, dengan penghasilannya yang pas-pasan dengan segala kebutuhan hidupnya, maka bisa menabung dari sedikit penghasilannya adalah hal yang luar biasa. Sudah seharusnya, Udin sangat bersyukur karena istrinya dapat mengelola keuangan rumah tangganya dengan sangat baik. 
"Nomor antrian B 080, silakan menuju counter 2" terdengar suara dari mesin antrian yang langsung membuyarkan lamunan Udin. Mendengar nomor antriannya dipanggil, Udin segera bangkit dari tempat duduknya, trus berjalan menuju meja customer service. Ruangan di bank yang begitu hening bagi orang-orang disana, terdengar sangat berbeda bagi Udin. karena sesaat Udin berdiri dan kemudian berjalan, entah kenapa, suasana seketika berubah, telinganya langsung mendengar ratusan bahkan ribuan orang melantunkan talbiyah dengan bersuara kencang tapi tidak berteriak, berirama dengan suara penuh makna yang sangat dalam.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
“Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”

7 November 2012

Monday, October 29, 2012

Bela dan Bella !

Jangan pernah menyalahkan kata dari yang mulut anda keluarkan dan bahasa dari yang lidah anda suarakan. Karena pada dasarnya bahasa yang kita gunakan adalah suatu konfigurasi antara lidah dan mulut. Entah apa yang salah, kenapa orang Sunda begitu susah menyebut huruf 'F" dan "V" dengan baik dalam percakapan, dan juga orang suku batak hanya bisa berucap huruf "e" seperti e dengan accent taigu dalam bahasanya Zinedine Zidane.
Satu hal yang selalu saya ceritakan ke setiap orang adalah pengalaman berada dalam 2 organisasi yang hanya berbeda huruf awal, tapi dengan objek yang sama, lalu kedua organisasi itu dapat berjalan beriringan tanpa memperdulikan perbedaan. Objek organisasi itu adalah antara kata Perancis dan Prancis. Tahun 1999,  ketika pertama kali menginjakan kaki di Fakultas Sastra, hati langsung tergelak, menahan senyum terkulum manakala melihat di salah satu ruangan  himpunan mahasiswa, disana tertulis : HIMAPRA, Himpunan Mahasiswa (Bahasa) Prancis dan HIMAPER,  Himpunan Mahasiswa (Sastra) Perancis wkwkwkwk, sangat kreatif. Lalu kemudian, karena saya masuk di sastra Perancis, maka saya masuk menjadi anggota HIMAPER, bukan HIMAPRA. Tapi selama beraktivitas di situ, belum pernah ada sekalipun orang - orang mempermasalahkan hal ini, bahkan mahasiswa sastra Indonesia sekalipun, tidak pernah saya dengar membahas perbedaan Perancis dan Prancis, apa mungkin memang tidak peduli atau memang kata Perancis dan Prancis, dapat digunakan dua-duanya. Moga dugaan saya yang terakhir yang benar.
Coba juga perhatikan tajwidz yang dulu kita pernah pelajari saat masih kecil, saat memulai belajar mengaji. Guru mengaji mengajarkan satu rumus, yaitu iqlab, dimana apabila ada huruf nun mati bertemu dengan huruf "ba", maka nun tersebut berubah menjadi huruf "m", misalnya "min ba'di, maka dibacanya adalah "mim ba'di". Namun ternyata, kalau kita perhatikan dalam bahasa percakapan sehari-hari, khususnya dalam bahasa sunda, terdapat suatu kebiasaan dimana sebuah suku kata yang dimulai m, biasanya jadi diikuti oleh huruf "B". Saya ambil contoh, "samoja" menjadi "samboja"; "selimut" menjadi "selimbut", ada juga contoh2 kata-kata lain, coba anda cari sendiri hihihi.......... Sedangkan buat para ustad, coba anda perhatikan, jika mereka mengucapkan kata yang ada huruf P, pasti akan terdengar seakan-akan mereka berkata dengan huruf "F", hal ini (mungkin) karena dalam bahasa arab tidak ada kata dengan huruf "P", tapi yang ada adalah dengan "f". Hal ini yang saya sering dengar saat Pa Nana, guru ngaji saya, menasihati agar "tidak lufa sholat lima waktu" (menggunakan huruf "f" pada kata "lupa") hihihi. 
Lalu, coba anda suatu waktu datang mengunjungi salah satu sekolah dasar di kota-kota di Jawa Barat pada hari Senin Pagi, disaat mereka sedang melaksanakan upacara bendera. Jangan anda terheran-heran, jika anda tidak mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan pada saat pengibaran bendera. Tapi yang akan anda dengar adalah lagu "Endonesia Raya" dengan huruf 'E".
Gak adil lah bagi kita untuk mempermasalahkan kebiasaan berbahasa dengan bagaimana seharusnya kita berbahasa. Tapi satu hal yang harus dipahami, satu huruf yang berbeda, dapat memberi arti yang berbeda. Wajarlah jika "Aqua" protes terhadap produsen air mineral yang ber merk "Agua", dan produsen celana jeans "Levi's Strauss" berang menemukan sebuah celana jeans dengan brand "Lepis" hihihi. 
Jadi wajarlah jika seorang Bela kemudian sering protes jika ada seorang kawan menulis namanya dengan huruf double L, menjadi "Bella", bukan gimana gimana, tapi rasanya tidak pantas, jika seorang manusia bernama "Bella" tapi ternyata brewokan dan berjanggut. 

29 Oktober 2012




Thursday, October 25, 2012

Ikhlas Ikhlas Ikhlas

Namaku, Belang, awalnya entah kenapa orang tua saya memberi nama yang begitu simpel dan mudah diingat. Namun seiring usia bertambah, saya baru mengerti kenapa saya diberi nama seperti itu, ya karena Beliau menganugerahi saya kulit yang memang belang, ada warna putih, hitam dan coklat di beberapa bagian. Saya mempunyai seorang ibu yang sangat baik hati dan penyayang. Begitu banyak pengorbanan yang dia telah lakukan demi saya, anaknya. Yang saya ingat, pernah suatu hari, saat saya sedang sakit dan makanan yang tersedia sangat sedikit, ibu tidak makan seharian, membiarkan saya makan dengan banyak dan lahap. "Biar kamu cepat sembuh nak, bisa lari-lari lagi di lapangan, bisa main petak umpet dengan temen-temen kamu. Ibu tau, kamu sangat senang maen dan Ibu ingin membuat kamu selalu bahagia. Karena kamu harus tau nak, kebahagian kamu adalah kebahagiaan ibu, senyum kamu adalah senyum ibu, dan kesedihan kamu adalah kesedihan ibu. Ketika kamu jatuh sakit, jujur nak, mungkin ibu mu ini yang terjatuh lebih sakit" ucap Ibu saat itu. 

Saya merasa bersyukur, mempunyai seorang ibu yang begitu sayang kepada anaknya. Meski sudah tidak mempunyai ayah lagi sejak 2 tahun yang lalu, saya pikir, sudah cukup dengan mempunyai seorang ibu, karena saya tidak merasa kekurangan kasih sayang sedikitpun. Pernah saya menanyakan kepada Ibu tentang ayah saya, siapa namanya, bagaimana dia meninggal. Ibu hanya bilang kalau ayah pergi saat saya sedang dalam kandungan ibu. "Namun bagi ibu, ayahmu itu adalah seorang pahlawan, dia seorang suami yang sangat patuh terhadap Tuhannya dan sangat mencintai istrinya, ibumu. Jadi jangan pernah membenci ayahmu, karena Ibu tau, dia akan sangat menyayangi mu jika dia masih ada saat ini".  Itu jawaban dari Ibu yang selalu diingat jika saya  menanyakan tentang kabar ayah. Maka cukuplah dengan cerita itu, saya berbangga dengan ayah saya. Karena ayah seorang pahlawan, setidaknya seorang pahlawan buat ibuku, orang yang sangat mencintai saya.

Ada satu fenomena yang menarik, di daerah perumahan saya, setahun sekali semua lelaki diminta berkumpul di tanah lapang. Buat yang sudah dewasa, diminta berbaris dengan rapih, sedangkan buat saya yang masih kecil saat itu, malah disuruh bermain dengan temen-temen yang sebaya. Senangnya bukan main. Walaupun demikian, ada juga rasa ingin tahu di hati, kenapa orang dewasa diminta berbaris, emang mereka mau ngapain ? mau kemana ? apakah mereka akan pergi berperang ? ataukah mereka dikumpulkan hanya untuk di catat nomor identitas saja ? berbagai pertanyaan bermunculan saat itu. Namun, pertanyaan itu hilang dengan sendirinya, terhapus oleh rasa senang bermain dan bercanda dengan temen-temen yang lain. Ketika tiba di rumah, saya bilang ke ibu kalau saya sangat senang hari ini karena bisa bermain seharian, tapi tetep juga menanyakan berbagai pertanyaan yang tadi sempet muncul dipikiran. Ibu hanya tersenyum mendengar banyak pertanyaan dari saya, dan kemudian Ibu hanya menjawab, " itu adalah proses seleksi untuk menjadi seorang pahlawan nak. Setiap ibu sangat bangga jika anaknya nanti menjadi seorang pahlawan. Karenanya, Ibu ingin kamu juga menjadi seorang pahlawan buat ibu, kamu mau kan nak ?" Mendengar pertanyaan ibu itu, saya langsung menjawab, " tentu bu, saya ingin cepat besar, saya ingin ikut seleksi, dan ingin  menjadi seorang pahlawan". Ibu hanya tersenyum dengan tatapan mata yang sangat dalam dan penuh dengan perasaan sayang, dipeluknya saya dengan erat, sambil berkata dengan lembut, "ibu tau nak dan ibu yakin, tahun depan kamu bisa lulus seleksi dan bisa menjadi pahlawan buat ibu". Mendengar ucapan nya, hati saya berdegup kencang, bertekad untuk segera mewujudkan harapannya di tahun depan. 

Saya tinggal di kaki bukit "Munjul", salah satu daerah di Bandung Selatan. Disini, jika kita melihat ke utara akan tampak keindahan Gunung Tangkuban Parahu, sedangkan jika menengok ke arah selatan, akan nampak kemegahan Gunung Malabar. Kurang lebih 300 meter dari bukit ini, melintas aliran Sungai Citarum yang menjadi sumber irigasi bagi sawah-sawah dan kebun-kebun di sekitarnya, dan pagi ini, di kaki bukit, langit begitu cerah, lebih terang dari biasanya, namun udaranya masih sangat sejuk, rumput-rumput masih basah sisa embun semalam, ayam sudah berkeliaran di halaman mencari makanan, burung pipit sedang berterbangan meninggalkan sarangnya. Pagi ini adalah pagi yang sudah saya nantikan itu sejak lama. 2 hari yang lalu,  ibu berkata kalau saya harus bersiap mengikuti proses seleksi menjadi pahlawan pada hari ini. Saya sangat senang sekali. Setelah bangun, saya melihat ibu sudah menyiapkan makanan buat sarapan. Saya kemudian diminta ibu untuk menghabiskan semua makanan itu. Melihat saya makan begitu bersemangat, ibu hanya tersenyum bijak. Dengan tatapan mata yang sejuk dan penuh rasa sayang, Ibu terus memperhatikan saya makan hingga selesai. Saya makan sangat banyak pagi itu. Kemudian ibu meminta saya duduk karena ibu akan menyampaikan sesuatu. Dengan suara yang lemah lembut, ibu berkata, "duhai anakku, kamu percaya kalau Tuhan itu ada ?" Saya menjawab " Percaya bu". "lalu, kamu tau untuk apa kita semua diciptakan di muka bumi ini ? sesungguhnya, kita dilahirkan tak lain adalah untuk beribadah nak, untuk mensyukuri semua nikmat-Nya, untuk memuji semua kebesaran-Nya dan untuk diuji dengan berbagai cobaan dan tantangan. Satu kata kunci jika kita ingin lulus dari semua cobaan dan tantangan-Nya nak, yaitu ikhlas. Niatkan semua yang kita lakukan adalah untuk Tuhan-mu, maka hati ini akan seketika menjadi ikhlas. Anakku, hari ini kamu akan mengejar cita-citamu menjadi pahlawan. Luruskan niatmu nak, ibu ikhlas melepas kepergian mu, ibu ikhlas melepas kepergianmu". Ada nada suara ibu yang berbeda dari biasanya. Terasa begitu berat dan agak terbata-bata. Mata ibu berkaca-kaca, menahan air mata yang muncul dengan tiba-tiba. Belum pernah saya melihat mata ibu seperti itu, selama ini matanya tampak begitu jernih, penuh dengan tatapan rasa sayang. Entah kenapa, dada ini langsung terasa begitu sesak, air mata menyeruak ikut muncul di kantung mata saya. Lalu, "sini nak, salim ke ibu" ujar ibu. Saya mendekat ke ibu, mencium tangannya yang begitu halus, dan kemudian ubun-ubun kepala saya tertunduk di mulut ibu, dengan hati yang tak menentu, dan saya mendengar ibu berdoa, "Ya Rabb, hari ini saya ikhlaskan, anak hamba untuk pergi memenuhi kewajibannya, memenuhi sunnah dari Rasul kesayangan-Mu, Ibrahim dan Muhammad. Ya Rabb, karuniakan kepada anak hamba, hati yang tulus dan patuh kepada semua titah-Mu, seperti hatinya seorang Ismail bin Ibrahim, yang dengan ikhlas menjalankan semua perintah-Mu. Mudahkan anak saya untuk kembali kepada-Mu dengan syahid, dan kumpulkan segera kami di surga-Mu dengan penuh kebahagiaan. Ya Rabb, perkenankan permohonan hambu-Mu ini". Selama ibu berdoa, saya hanya mengucapkan kata "amiin" berulang ulang sambil air mata tak tertahankan bercucuran, ini pertama kali saya mengucurkan air mata, menangis, selama hidup saya.
                                                                                  ****
Sholat idul adha baru saja selesai, Udin beserta istrinya, dan ketiga anaknya berjalan terburu-buru kembali ke rumahnya. Bukan karena lapar, karena belum sarapan, tapi karena Idul Adha kali ini jatuh pada hari Jum'at. Jadi waktu untuk menyembelih hewan qurbannya harus lebih cepat, agar daging hewan qurban dapat tetap terbagikan sebelum sore hari tiba. Sesampainya di rumah, Udin kemudian menyantap sepotong ketupat dengan opor ayam kampung buatan istrinya, lalu kemudian pergi ke halaman rumahnya. Dipojok halaman, ada seekor domba jantan berbulu belang tiga warna, ada putih, hitam dan coklat. Dengan usia domba yang masih muda, domba itu terlihat sangat gagah dan lebih besar untuk domba seusianya dan si domba itu sangat jinak. Tidak gampang mencari domba seperti itu, Udin telah berkeliling ke seluruh pelosok di kota Bandung, mencari domba-domba yang bagus untuk dia jadikan qurban, akhirnya Udin menemukan domba ini di 15 km arah selatan kota Bandung, di perbatasan daerah Bale Endah dan Cangkring. Senangnya tidak terkira, karena uang hasil Udin menabung di celengan kambing nya itu, mencukupi buat beli domba sebagus ini. Si Domba ini kemudian Udin lepas tali pengikatnya, dan dituntun menuju mesjid di dekat rumahnya. 
Hari ini,  10 Dzulhijah, Udin berqurban kembali di rumahnya. 
Hari ini, 10 Dzulhijah, doa ibu Si Belang terwujud, anaknya mati syahid. 

25 Oktober 2012

Saturday, October 20, 2012

Idul Qurban buat Udin !

Salah satu ujian loyalitas bagi seorang bawahan manakala diminta melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan hati nuraninya, bertentangan dengan norma, bertentangan dengan akal sehatnya dan bertentangan dengan keyakinannya ! 

Bagi Udin, seorang pekerja dengan penghasilan yang pas-pasan, segala yang berkaitan dengan pengeluaran keuangan harus di kelola dan direncanakan dengan baik. Betapa tidak, 2 orang anaknya saat ini, sedang bersiap menempuh ujian akhir di sekolah, Asep, si sulung, sudah duduk di kelas 9, bersiap masuk ke sma sedangkan Emma, anaknya yang nomor 2, juga sedang bersiap ujian masuk ke smp. Sedangkan Atep, si bungsu, sekarang baru sekolah di kelas 4 sekolah dasar. Adapun istri Udin, tidak bekerja secara tetap, dia hanya menerima jasa cuci dan setrika pakaian di sekitaran rumahnya. 
Satu hal yang menjadi pemikiran Udin saat ini adalah dirinya harus bersiap menyisihkan uang dari pendapatannya itu untuk biaya sekolah anaknya tahun depan, karena menurut seorang tetangga sebelah rumahnya, biaya masuk ke smp dan sma saat ini sudah sangat mahal, butuh uang berjuta-juta untuk bisa masuk ke sekolah yang bagus. Bukan gimana-gimana, sudah tertanam dari awal saat anak pertama nya, Asep dilahirkan, ada satu tekad yang Udin bisikan kepada anaknya, "Bapak ga bisa menjanjikan kehidupan dan kekayaan yang berlimpah buat mu Nak, tapi hanya satu hal yang Bapak berani berjanji, Kamu tidak akan putus sekolah, Bapak akan berusaha mencari uang agar kamu bisa sekolah setinggi tingginya",  hanya itu janjinya. Janji menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya !!
Sebagai bukti dari janjinya itu, lebih dari 30% dari uang gajinya, Udin langsung menyisihkan buat biaya sekolah anak-anaknya. "Biarlah saya hidup berkekurangan saat ini, asalkan anak bisa tetap sekolah sampai sarjana" demikian yang ada dalam benak Udin. 
Selain buat biaya sekolah, sesungguhnya Udin juga menyisihkan uang setiap bulannya sekitar 150 ribu, yang dia masukan kedalam sebuah celengan berbentuk kambing yang dia beli di Kebun Binatang. Kenapa celengan kambing yang Udin pilih ? karena memang uang yang dia masukan ke celengan itu adalah uang tabungan Qurbannya. Sejak bujangan, kebiasaan membeli celengan kambing ini sudah  Udin lakukan, hanya bedanya dengan sekarang, kalau dulu isinya kebanyakan uang recehan logam, kalau sekarang kebanyakan uang kertas. Selembar uang seratus ribu, dia masukan pada setiap tanggal 1 selesai dia mendapatkan gaji bulanannya, sedangkan sisanya adalah uang - uang kertas seribu atau dua ribu an yang dia masukan setiap hari. 
Tentang Qurban ini, Udin sangat paham kalau sifatnya itu "Sunat Muakaddah", ibadah sunat yang sangat diharuskan. Dalam salah satu keterangan yang Udin dengar saat solat jum'at, Khotib saat itu menyatakan bahwa ada satu hadist atau ayat Qur'an yang menyatakan seperti ini : "janganlah kalian memasuki tempat solat jika kamu termasuk orang yang mampu tapi tidak melaksanakan ibadah Qurban". Bergetar hati Udin saat itu, seraya bingung dengan definisi "orang yang mampu". lalu muncul banyak pertanyaan dalam dirinya, "apa definisi orang yang mampu itu ya ?" "apa indikator nya ?" apakah sebuah keluarga yang mempunyai tv di rumahnya, walaupun dia punya banyak hutang, termasuk kategori wajib Qurban ?" "apakah saya termasuk orang yang mampu ?"  pertanyaan - pertanyaan lain terus bermunculan. Hal positif yang kemudian sikapi adalah dengan harga kambing yang cukup mahal buat Udin, maka dia harus mempunyai celengan khusus buat Qurban. Dan sejak saat itu, 15 tahun yang lalu, dia selalu membeli celengan berbentuk kambing di deket Kebun Binatang pada minggu pertama setelah Idul Adha. Ada suatu kepuasan tersendiri bagi Udin kalau bisa berqurban setiap tahun. Udin selalu membeli kambing/domba  yang bagus untuk berqurban, dan dititipkan di masjid yang dekat dengan tempat tinggalnya, yang selalu menjadi tempat sholat Udin dikala adzan subuh memanggilnya. adapun dhuhur, ashar, maghrib dan isya, biasanya Udin sholat di mushola tempat dia bekerja.  Walau kemudian hewan qurbannya itu dititipkan di DKM, Udin selalu menyembelih hewan qurbannya dengan tangannya sendiri, karena memang lebih utama demikian, lalu dengan rekan-rekan di DKM yang lain, bersama-sama untuk menguliti, membersihkan dan membagikan daging hewan qurban itu ke yang berhak menerimanya. Berqurban menjadi sebuah ritual tahunan yang penuh makna buat Udin, makna pengorbanan seorang hamba kepada Tuhannya.
Namun, pada Idul Qurban tahun ini, ada satu yang mengganjal pikirannya, yaitu saat pimpinan baru di kantornya, yang memang seorang ustadz, mengeluarkan kebijakan bahwa setiap karyawan harus berqurban di kantor untuk kemudian disalurkan ke lembaga/yayasan yang telah ditentukan oleh kantornya. Mendengar kebijakan pimpinan kantornya itu, Udin langsung gelisah, masih belum mengerti, kenapa seorang pimpinan kantor mengeluarkan kebijakan yang mengatur tentang "ibadah" seseorang. Padahal menurut pemikiran sederhana Udin, berqurban itu merupakan suatu kewajiban yang melekat bagi seorang hamba-Nya bukan bagi seorang karyawan kantor, jadi kenapa kantor harus turut campur mengatur tentang hal ini ? 
Satu hal yang Udin yakini, bahwa jika Udin mematuhi kebijakan pimpinannya itu, maka Udin akan kehilangan makna Idul Qurban yang telah dia nikmati dan rasakan  hampir 15 tahun belakangan ini. Entah kenapa, Udin masih belum rela untuk memecahkan celengan berbentuk kambing nya itu jika harus berqurban di kantornya. 
Lalu kemudian Udin mencoba ber andai - andai, apa yang terjadi jika Udin tidak berqurban di kantor nya ? apa dia akan dipecat ? apa dia akan diberi Surat Peringatan oleh HRD kantor nya ? ataukah Pimpinan kantornya nya itu akan menyalahkan secara individu dan membencinya karena dianggap tidak loyal ke atasan ? atau kah seperti apa ? Jika dia dipecat kerja, lalu bagaimana dengan biaya sekolah anak-anaknya ? karena pada jaman sekarang, bukan hal gampang mencari kerja buat seorang yang telah berumur seperti Udin.

Idul Qurban tinggal 6 hari lagi, Udin masih bingung dengan tindakan yang akan dia lakukan......masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Udin hanya bisa kemudian pasrah, menyerahkan semuanya kepada Allah, "saya akan solat istikharah malam ini,  semoga Allah memberi keyakinan kepada hati ini, bagaimana saya harus bersikap" gumam Udin sambil mengayuh sepeda lipat hitam menuju tempat kerjanya. 

20 Oktober 2012.

Sunday, October 14, 2012

data itu menyebalkan

Jaman sekarang, jaman informasi. Siapa yang mempunyai informasi terlebih dahulu, maka dia akan menguasai dunia. Kurang lebih begitu, dengang dengung yang sering kita dengar di era boomingnya teknologi informasi saat ini. Segalanya begitu instant, tak ada penyaringan. Segalah sesuatu yang terjadi di kota Ujung Genteng, bisa terinformasikan dalam hitungan menit ke Kota New York heuheu, bahkan sampai tampilan movie nya pun bisa, tidak hanya berupa berita ataupun gambar,  luar biasa. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat ini sejatinya diimbangi juga dengan perkembangan teknologi dan struktur data yang mumpuni. Namun kenyataan nya saat ini, sepertinya terjadi gap yang cukup besar antara perkembangan teknologi informasi dengan teknologi basis data, di semua sektor. Padahal, informasi tanpa data bagaikan sayur sop tanpa wortel dan sayur soto tanpa sayur lobak xixixi, analogi yang pas. 

Bicara konteks data di negara kita, sangat menyebalkan. Kenapa begitu ? setidaknya ada 5 faktor yang membuat data begitu menyebalkan. Yang pertama, kelembagaan. Jujur, sampai saat ini saya tidak begitu tahu kalau Badan Pusat Statistik itu berada dibawah kementerian yang mana, apakah langsung dibawah presiden atau di bawah suatu kementerian tertentu. Kalau melihat dalam salah satu berita siy, Kepala BPS pusat dilantik oleh Bu Armida, tapi kayanya bukan berarti berada di bawah salah satu kementerian kayanya. Melihat sepak terjang BPS sekarang, sepertinya mereka terlalu dominan dan terlalu jumawa. Betul, point pentingnya karena mereka dilindungi oleh Undang-undang 16 tahun 1997. Tapi kalau boleh ambil peribahasa, BPS itu seperti "agul ku payung butut". Terlalu membanggakan dengan sesuatu yang sebenarnya sudah jelek, yang tidak terlalu berfungsi dengan seharusnya. Boleh jadi, mungkin BPS sendiri pun sudah menyadari hal itu, tapi karena mungkin ada hambatan pendanaan, atau kendala lain, yang membuat BPS sendiri pun seperti tanpa upaya memperbaiki "payung butut' kebanggaannya itu. Bukan tidak mungkin, akan muncul banyak lembaga tandingan penyedia data yang lebih diminati oleh stakeholders data.  Yang kedua, ke "up to date" an. Dalam bahasa simpelnya, kita harus bersabar selama 1 tahun atau 356 hari atau 8544 jam untuk bisa tahu data yang kita butuhkan saat ini. Ya ampuunn. Misalnya, kita ingin tahu berapa jumlah penduduk kota Bandung pada hari ini,  13 Oktober 2012, maka pastinya jawabannya akan kita bisa tahu pada tahun depan, (mungkin) atau malah lebih lama. Ambil contoh lain yang lebih susah, misalnya berapa jumlah produksi daging sapi s.d. triwulan 3 tahun 2012 ?  pada dasarnya mungkin ada lembaga atau instansi yang bisa mengeluarkan data tersebut, tapi yang menjadi ganjalannya adalah keabsahan data tersebut. padahal memang instansi tersebut yang menghitung data produksi daging untuk kemudian "dikirim" ke BPS
dan disahkan oleh BPS setelah masuk ke "daerah dalam angka" pada tahun berikutnya.....*whew
Yang ketiga, data yang disediakan oleh BPS, selalu sepotong, hanya bersifat umum, tidak mencapai kedalaman data. Padahal yang saya yakini, salah satu keberhasilan para peneliti yang ada adalah dapat menganalisa sesuatu secara detail, terperinci dan bersifat sangat khusus, tapi entah kenapa, data yang ditampilkan oleh BPS selalu yang bersifat umum. Suudzan nya saya, jangan-jangan data yang bersifat detail itu sebenarnya ada, tapi disembunyikan, dan akan diberikan (baca : dijual) kepada pihak-pihak yang membutuhkan, siapa tahu ? Yang keempat, harga data yang terlalu mahal. entah karena faktor apa yang membuat data di Indonesia begitu mahal. Ingin rasanya tahu, jika kita bisa menyusun suatu basis data yang ideal bagi semua kabupaten/kota, Provinsi dan Pemerintah Pusat, maka berapa jumlah anggaran yang dibutuhkan oleh BPS agar semua data itu dapat tersedia ? itu bisa menjadi salah satu obsesi buat siapa pun pemimpin negeri ini, membuat data begitu murah (buat rakyat). Yang ke lima, kerahasiaan data masyarakat. sangat aneh jika ada sebuah data, misalnya data rakyat miskin di suatu daerah, menjadi suatu data yang rahasia, kenapa ? saya pikir selama itu, data nya adalah data yang bersifat umum, dimana pencarian datanya itu juga menggunakan uang rakyat, kenapa harus dirahasiakan ? jangan terlalu takut untuk menyebarluaskan data, apa yang memang disembunyikan dari data itu ? apa itu mengganggu keamanan negara ? hahaha..........sejak kapan data rakyat miskin berpengaruh kepada keamanan negara ataukah (hanya) mengganggu "keamanan" penguasa suatu daerah ? ah, nonsense.



Sudah hampir belasan tahun, sejak saya mulai merasa “melek data”, nampaknya belum ada perubahan yang signifikan terhadap perbaikan basis data di tanah air ini. dan sampai sekarang pun, karena saya berstatus sebagai user data, tidak berkaitan secara langsung dengan kebijakan pendataan, hanya bisa duduk dan berteriak kesana sini tentang adanya gap perkembangan teknologi informasi dan basis data yang ajeg. Semoga para pemimpin negeri ini memberi perhatian lebih kepada pentingnya ketersediaan data  yang akurat, real time, dan komprehensif ini, sehingga data tidak lagi menyebalkan. 

14 oktober 2012

 


Wednesday, October 10, 2012

Original


Kebanyakan orang lebih menyukai barang yang sesuai dengan kondisi aslinya, sesuai dengan kondisi awal barang  itu diproduksi, misalnya  mobil, motor dan juga sepeda.  Tapi jangan salah, mengubah kondisi suatu barang itu ada 2 tipe, yang pertama adalah dengan meng upgrade beberapa komponen dari barang untuk meningkatkan performanya dan yang kedua adalah mempreteli beberapa bagian dari barang tersebut dengan maksud agar terlihat gaya (unik). Untuk yang pertama, biasanya ini dilakukan karena ada suatu ketidakpuasan akan performa suatu barang itu, baik dari sisi kemampuan, penampilan ataupun dari sisi estetika. Kita ambil contoh, untuk mobil. Seorang penggila mobil khususnya penyuka mobil-mobil custom dengan kemampuan khusus, misalnya untuk offroad yang mengandalkan kekuatan atau sprint rally yang mengandalkan kecepatan, maka dia akan merombak satu mobil yang diinginkan itu dengan spesifikasi khusus yang dirancang untuk memberikan kepuasan dalam berkendara. Nah itu dia, karena standard kepuasan manusia selalu tidak terbatas, maka biasanya biaya yang dikeluarkan itu sangat jor-jor an, bisa membuat kita semua tercengang tak percaya.
Sementara yang kedua, biasanya ini dilakukan oleh orang-orang yang merasa tidak puas dengan sisi estetika dari suatu barang, tapi tidak dapat menemukan solusinya selain dengan mempreteli beberapa bagian yang pada awalnya menempel pada barang tersebut. Contoh mudahnya adalah pada sepeda motor. Ada satu bagian pada motor yang mayoritas selalu dilepas oleh setiap penggunanya, yaitu “tebeng” (ntah ini bahasa baku atau bukan). Buat para pengguna motor, tebeng ini seringkali dilepas karena dianggap mengganggu penampilan karena tebeng itu biasanya mepunyai warna berbeda dengan body motor,  selain itu adanya tebeng ini membuat posisi kaki pengendara lebih sempit, sehingga mengurangi kenyamanan dalam berkendara. Itu secara umum saja, tapi hal ini menjadi suatu kewajiban buat anak muda. Buat para anak muda yang menggunakan motor pada umumnya selalu mempreteli beberapa bagian motornya, intinya ingin terlihat lebih gaya, ingin berbeda dengan motor sejenisnya, tapi karena belum berpenghasilan, maka mempreteli adalah tindakan yang biasanya dilakukan, ah, jadi inget waktu muda dulu heuheu. 
Buat para sepuh, para kolektor, biasanya lebih mempertahankan originalitas dari barangnya, entah itu mobil, motor atau sepeda. Sepertinya ada kepuasan lain jika kita bisa memiliki suatu barang dengan segala keorsinilannya.  Semakin tua itu barang dalam kondisi orsinil, maka semakin antik itu barang dan semakin dicari oleh orang-orang. 
Kalau kita ambil dari spot yang lain, originalitas itu bisa menjadi suatu daya jual yang menarik bagi wisata, khususnya wisata alam dan kehidupan alami. Coba anda pergi ke Kota Garut, setidaknya yang saya tahu, mungkin ada 4 tempat wisata yang menjual konsep originalitas, atau konsep kembali ke alam, kembali ke kehidupan dimana belum ada polusi-polusi pembangungan dan mencoba untuk membawa para pengunjung menikmati kehidupan pada era 60 - 70 an. Hamparan sawah yang luas, hewan-hewan peliharaan berlalu lalang, tembok-tembok rumah masih menggunakan bilik-bilik, memasak makanan masih menggunakan "suluh" serta tempat mandi yang menggunakan Pancuran, tidak menggunakan shower ataupun "bathtub" seperti hotel-hotel masa kini. Yang anehnya, tempat-tempat seperti itu ternyata sangat laku. Jangan coba-coba anda datang go show pada saat weekend ke tempat itu, karena dipastikan sudah ter pesan sejak beberapa minggu sebelumnya. Padahal kalau melihat dari sisi harga, bungalow-bungalow itu seharga dengan kamar type "deluxe" atau "superior" di hotel bintang 5 di Jakarta, gile.
Ternyata memang, harga sebuah originalitas itu tidak terbatas, unlimitted. Orang-orang lebih menghargai originalitas lebih dari apapun, setuju kah anda ?  Jika memang demikian, lalu kenapa kita tidak ingin menjadi manusia yang original ? atau nanti dulu, emang bagaimana karakter dan sifat manusia yang original itu ? apakah saat ini, sikap dan perilaku manusia sudah tidak original lagi ?  *saya minta timeout buat berpikir terlebih dahulu, apa makna original dalam diri manusia, sebagai hamba-Nya, sebagai mahluk sosial dan sebagai mahluk ekologis. 
10 10 2012